u3-WhatsApp-Image-2026-03-05-at-10.12.27
ALGORITMA MEDIA SOSIAL DAN PENYEBARÀN HATE SPEECH

Cyberbullying merupakan perbuatan yang tidak lagi asing bagi kehidupan manusia sehari – hari. Cyberbullying dapat dikatakan sebagai bullying modern karenaperilakunya tidak lagi dilakukan secara langsung, namun dilakukan melalui teknologimedia sosial. Kasus cyberbullying ini sendiri sering terjadi di Indonesia dan dapaterlihat pada realita kehidupan sehari – hari. Asosiasi Penyelenggara Jasa InternetIndonesia (APJII) mengatakan pada peningkatan yang terjadi mengenai jumlahpengguna internet di tahun 2017 sebanyak 143,26 pengguna menjadi 171, 17 juta(64,8%) di tahun 2018 (APJII, 2019). Tidak hanya total pengguna internet yangmeningkat, kasus cyberbullying di Indonesia pun juga mengalami peningkatan di mana Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan di tahun 2016 hanya terdapat 45 kasus, lalu meningkat di 2017 menjadi 100 kasus, dan terakhir di tahun 2018 sebanyak 209 kasus (Hutasuhut, 2019)
Perkembangan media sosial yang pesat membuat informasi dapat tersebar dengan sangat cepat melalui sistem algoritma yang mengatur konten sesuai minat dan interaksi pengguna. Namun, mekanisme algoritma ini sering kali justru memperbesar penyebaran konten negatif, termasuk hate speech yang berkaitan dengan cyberbullying. Konten yang memicu emosi seperti kemarahan atau kebencian cenderung mendapatkan lebih banyak perhatian, sehingga algoritma semakin mendorongnya muncul di beranda pengguna lain. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena penyebaran hate speech dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis korban, terutama remaja yang aktif menggunakan media sosial. Oleh karena itu, muncul pertanyaan mengenai bagaimana peran algoritma media sosial dalam mempercepat penyebaran hate speech serta sejauh mana tanggung jawab platform dalam mengendalikan dampak cyberbullying yang terjadi.
C. Data Wawancara
Berdasarkan pengalaman yang kami dapatkan, cyberbullying terjadi ketika seseorang menerima hinaan atau kata-kata tidak pantas melalui media sosial, seperti saat sedang bermain HP lalu mendapat chat menghina dari teman, atau ketika mengunggah foto di TikTok dan mendapat komentar negatif dari publik. Hal tersebut menimbulkan rasa sakit hati dan membuat korban menjadi tidak percaya diri. Penyebab cyberbullying antara lain kurangnya empati, rasa iri dan benci, masalah emosi, kurangnya kepedulian terhadap orang lain, serta pengaruh lingkungan, dan aturan kelas yang ada pun dirasa belum cukup untuk mencegahnya. Jika ada korban, kita sebaiknya membela dan membantu korban, memutus hubungan dengan pelaku, serta mencari tahu alasan di balik tindakan tersebut. Saat mengalaminya, korban dapat membela diri jika tidak bersalah, memblokir pelaku, menyimpan tangkapan layar sebagai bukti, melaporkan kepada pihak berwajib, tidak membalas pesan pelaku, memprivat akun, dan membatasi penggunaan media sosial agar kejadian serupa tidak terulang.
Algoritma media sosial berperan dalam mempercepat penyebaran hate speech karena cenderung menampilkan konten yang banyak mendapat perhatian dan memicu emosi. Hal ini membuat kasus cyberbullying semakin meningkat, terutama di kalangan remaja.
Untuk mengatasinya, diperlukan kesadaran pengguna, dukungan terhadap korban, serta tanggung jawab platform media sosial dalam mengendalikan konten negatif agar tercipta lingkungan digital yang lebih aman.

C: Beybi (8), Jacquelline (10), Netta (17), Olivia (24)

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait