u3-WhatsApp-Image-2026-03-05-at-08.12.49
Ancaman Cyberbullying di Berbagai Platform

Cyberbullying adalah tindakan perundungan, agresif, dan berulang yang dilakukan melalui media digital (media sosial, aplikasi chat, gim) dengan tujuan menakuti, marah, atau mempermalukan korban.
Seiring dengan makin canggihnya media sosial, cyberbullying kini bukan lagi sekedar isu di berita, tapi sudah jadi ancaman nyata di depan mata, terutama bagi kita para pelajar. Dulu perundungan Instagram, Tiktok, atau grup WhatsApp, siapapun bisa jadi korban kapan saja.
Masalahnya, banyak orang lain karena merasa “bersembunyi” dibalik layar atau akun anonim, tanpa memikirkan seberapa dalam luka psikologis yang mereka buat bagi korbannya.

Berdasarkan wawancara yang kelompok kami lakukanm, terdapat 4 anak dari 5 anak yang melakukan cyberbullying pada media sosial. Ada juga siswa SMP yang mendapat ancaman cyberbullying.
Dalam wawancara tersebut 4 narasumber menyatakan pernah dibully lewat instagram. Kasus cyberbullying pada anak-anak meningkat karena anak-anak yang belum mengerti teknologi dan banyak juga orang dewasa yang belum dapat mengerti teknologi dengan bijak berkomentar. 
Dari sampel yang kami dapatkan, sekitar 40% responden mengalami perundungan secara online dalam berbagai bentuk.

Perundungan digital semakin meningkat gegara anak-anak adalah sasaran empuk untuk di rundung. Dampaknya pun tidak sedikit, dapat menyebabkan malu, trauma, dan takut, mereka pun merasa kurang percaya diri dan jadi ada jejak digital, banyak komentar jahat yang menyerang mereka, mereka masi merasakan takut meski dirumah

Kenapa cyberbullying itu nyata dan nggak bisa disepelein?

Pertanyaan tersebut kami dapatkan setelah melakukan surfing website – UNICEF tentang cyberbullying multiplatfrom.

Sekarang HP sudah seperti bagian dari hidup sehari-hari. Bangun tidur langsung cek HP, mau makan difoto dulu, sebelum tidur masih scroll TikTok atau Instagram. Tapi di balik konten yang kelihatan seru dan estetik, ada sisi yang nggak enak juga, yaitu cyberbullying. Banyak orang masih nganggep ini cuma sekadar “dikatain di internet”, padahal dampaknya bisa serius banget. Kebayang nggak sih kalau lagi buka sosmed terus tiba-tiba ada komentar atau pesan yang isinya hinaan, dan itu bisa dilihat banyak orang? Pasti rasanya sakit dan bikin kepikiran terus.

Cyberbullying juga nggak cuma terjadi ke orang dewasa atau remaja aja. Anak-anak kecil sekarang juga sering jadi korban karena dari kecil sudah kenal gadget dan internet. Mereka main game online atau bikin video, tapi kadang malah dapat komentar jahat atau diejek pemain lain. Anak kecil biasanya belum siap menghadapi hal seperti itu, jadi bisa bikin mereka jadi minder, takut bergaul, atau bahkan kehilangan diri sejak kecil.

Di kalangan remaja, cyberbullying biasanya lebih terasa karena kita lagi ada di masa nyari jati diri dan pengakuan dari orang lain. Komentar negatif bisa terasa lebih menyakitkan dari yang dibayangkan. Misalnya ada yang pakai akun palsu buat kirim pesan jahat, nyindir lewat story, atau ngejek fisik orang lain. Hal-hal kayak gitu kelihatannya sepele buat pelaku, tapi buat yang kena bisa kepikiran terus dan bikin nggak nyaman sama diri sendiri.

Yang bikin cyberbullying lebih berat dibanding bullying biasa adalah karena terjadi terus-menerus. Kalau masalah di sekolah biasanya selesai pas pulang, tapi kalau di internet bisa muncul kapan aja lewat notifikasi. Selain itu, hal-hal yang sudah terlanjur tersebar di internet juga susah dihapus, jadi kadang bikin orang takut kalau suatu saat nanti jejak itu muncul lagi.

Dampaknya juga nyata. Ada orang yang jadi cemas, jadi nggak percaya diri, atau menarik diri dari lingkungan karena sering dapat komentar jahat. Kadang pelaku nganggep itu cuma bercanda, padahal orang yang nerima bisa ngerasa sangat tersakiti. Kita nggak pernah tahu kondisi orang lain waktu mereka baca kata-kata yang kita tulis.

Penting banget buat lebih hati-hati waktu pakai media sosial. Hal kecil seperti komentar atau pesan yang kita kirim bisa berpengaruh besar ke orang lain. Lebih baik pakai media sosial buat hal positif, saling dukung, dan bantu teman yang lagi kena masalah daripada ikut memperkeruh keadaan. Dunia digital harusnya jadi tempat buat berbagi hal baik, bukan tempat buat saling menjatuhkan.

A: Alice (05), Carissa (09), Keiko (19), Vanya (27), Yohana (28)

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait