Pada tahun 2026, dunia fisik dan digital semakin menyatu sehingga batas di antara keduanya hampir tidak terlihat. Perkembangan ini membawa dampak positif sekaligus negatif, salah satunya munculnya lingkungan digital yang toxic. Cyberbullying atau perundungan di dunia maya meninggalkan jejak digital yang permanen dan sulit dihapus. Berbeda dengan perundungan tradisional yang terbatas ruang dan waktu, cyberbullying dapat terjadi kapan saja melalui notifikasi ponsel tanpa perlu bertemu langsung, sehingga korban seolah tidak memiliki tempat aman. Hilangnya kontak mata juga menurunkan hambatan psikologis pelaku sehingga mereka lebih berani menyakiti orang lain. Penelitian ini bertujuan mengetahui dampak cyberbullying terhadap pelajar serta memahami cara pencegahannya.
Penelitian menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan teman sekelas mengenai pengalaman dan pendapat mereka tentang cyberbullying, sedangkan data sekunder diambil dari berbagai sumber terpercaya. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 90% dari responden pernah menjadi korban dan pernah melihat komentar menghina di media sosial.Menurut pendapat Felicita salah satu anggota kelas “Ya, saya pernah mengalami intimidasi di dunia maya seperti di whatsapp maupun medsos lainnya”. Mereka menganggap ejekan di kolom komentar sebagai bentuk bullying meskipun sering dianggap candaan. Jika menjadi korban, mereka mengaku akan merasa sedih dan malu. Responden juga berpendapat pelaku berani melakukan cyberbullying karena merasa aman tanpa bertemu langsung. Saat melihat korban, mereka cenderung memberi dukungan dan menyarankan untuk melapor kepada guru atau orang tua, yang menunjukkan bahwa cyberbullying masih sering terjadi dan berdampak emosional bagi pelajar.
Data sekunder, Berdasarkan berbagai sumber terpercaya seperti UNICEF dan UNESCO, hampir setengah remaja usia sekolah pernah mengalami intimidasi di dunia maya. Platform yang paling sering menjadi tempat terjadinya cyberbullying adalah media sosial populer dan grup percakapan. Bentuk perundungan yang umum meliputi hinaan fisik, penyebaran informasi palsu, dan pengucilan dari grup. Dampaknya dapat berupa kecemasan, sulit tidur, serta menurunnya semangat belajar. Meskipun tidak menimbulkan luka fisik, dampak emosionalnya nyata dan memengaruhi kesejahteraan korban.
Secara keseluruhan, cyberbullying dapat menyebabkan stres, kesedihan berlebihan, hilangnya rasa percaya diri, hingga gangguan kesehatan mental akibat tekanan yang terus-menerus. Notifikasi yang seharusnya menyenangkan dapat berubah menjadi sumber ketakutan. Tidak adanya interaksi langsung membuat pelaku merasa lebih bebas melakukan serangan verbal, sementara budaya yang menganggap ejekan sebagai candaan ikut menormalisasi perilaku tersebut. Dengan demikian, cyberbullying merupakan masalah serius di era digital karena merusak kesehatan mental dan sosial pelajar, menurunkan konsentrasi, serta motivasi belajar. Oleh karena itu, pelajar perlu menggunakan media sosial secara bijak, tidak membalas komentar jahat, memblokir dan melaporkan pelaku, serta berani bercerita kepada orang terpercaya, dengan dukungan guru dan orang tua agar perundungan dapat segera dihentikan.
C: audrey (2), tata (3), felicita (6), helen (9)
Daftar Bacaan:
ZipDo Social Media Cyberbullying Statistics 20267 global prevalensi remaja yang mengalami cyberbullying. Zip Do data
Korban “cyberbullying” kian meningkat di kalangan anak-anak dan remaja – ANTARA News 7 contoh artikel berita yang mengutip survei tertentu (UNICEF U-Report 2021) tentang 45% responden pernah mengalami cyberbullying.
ANTARA News
Cyberbullying (Wikipedia) ringkasan umum tentang prevalensi cyberbullying dari sumber penelitian lain.
-UNICEF Indonesia
https://www.unicef.org/indonesia/id/child-protection/apa-itu-cyberbullying
🔗 United Nations in Indonesia — Cyberbullying: Definition and Facts
https://indonesia.un.org/en/305496-cyberbullying-definition-and-facts
🔗 Wikipedia
https://en.wikipedia.org/wiki/Cyberbullying
🔗 Kompas
https://tekno.kompas.com/read/2024/11/04/13350047/apa-itu-cyberbullying-di-media-sosial-dan-macam-macamnya


